Tampilkan postingan dengan label poem. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label poem. Tampilkan semua postingan

Aku Ingin Mencintaimu Dengan Biasa Saja




Aku Ingin Mencintaimu Dengan Biasa Saja


Ada rasa jera terhadap cinta, 
yang akan membuat seseorang memiliki ingin yang berbeda.
Dahulu, aku ingin sekali mencintaimu seperti sebuah sajak Sapardi.
Manisnya mampu memerahmudakan birunya cinta.
Sederhana namun tetap istimewa.
Dahulu, aku pun ingin mencintaimu dengan luar biasa.
Tanpa perlu khawatir akan balasan yang kuterima.
Aku pikir, cinta itu senantiasa memberi
sampai kau kehabisan segalanya untuk dirimu sendiri.
Namun manusia hanyalah manusia.
Sosok yang sering sekali lupa akan keterbatasannya.
Dan aku mencintaimu dengan terlalu.
Sampai aku tak punya cinta yang tersisa untuk diriku.
Maka saat ini, aku ingin sekali mencintaimu dengan biasa saja.
Cinta kepada makhluk Tuhan yang biasa saja.
Karena cinta yang sempurna hanyalah milikNya.
Sayangnya,
sudah begitupun aku tetap tak bisa.
Atau mungkin hanya belum terbiasa.


cc: http://karenapuisiituindah.tumblr.com/post/42507505175/sebuah-pinta-yang-diawali-dengan-bismillah-hari

my future husband

Kamu adalah jawaban bagi semua pertanyaan.
Alasan di semua hal terbaik dalam hidup.
Harapan bagi mimpi - mimpiku.
Kekuatan saat aku sendiri meragukan kemampuanku.

Jadi, salahkah jika aku tak ingin siapa pun memilikimu?
atau, haruskah aku mencintaimu untuk membuktikan keegoisanku?

imam ku


Panorama pagi ku tak bisa terbantahkan dari buaian halus suaramu.
Setiap rakaat, menyambut hangat dalam raga.
Repetisi lantunan doa tersirat mawaddahmu.
Tak henti ku berdansa dalam keindahan alunan fokstrot.

Balutan embun menyelimuti suara qolbu
Terhanyut dalam pusaran pancawarna kiblat
Butiran aliran kian menikmati jalinan khidmat
Dewana ku pada komponen sosok ciptaan-Mu

Dia kartika dalam sentuhan rasi ku.
Dia pelengkap mahligai istana ku.
Dia mahdi dalam setiap langkah ku.
Dan dia sosok esensial dalam bahtera ku.

Bagai maharani yang mendapatkan segala isi semesta.
Itulah aku ketika mendapatkanmu, imam ku  ^_^


-ini ampuh-

Maras ku akan terkaan masa depan, yang telah tergores dalam tiap manuskrip..
mulai mengundang segudang tanya, akan setiap sisi lika liku kapling hektar jaminanku..

dikecam kritik para serdadu..
mulai menjatuhkan dinding pertahananku..
ku lontarkan syair mandraguna agar ku tak jatuh ke jurang ..
dan ini ampuh, sangat ampuh.. Semangatku!!!

metha ayu sugianto

klise kehidupan

termangu akan fatamorgana, dalam diam ku bernyanyi...
tralalalaaaa trililiiii...

menembus segala klise klise kehidupan, tercipta warna kian merona..
MeJiKuHiBiNiU...

begitu indah, tak peduli roda kan terhenti, ku terbuai dalam naskah skenario..
dengan melodi kicauan burung sejuk pagi ini,
mencoba mengingat episode antara belahan kisah abadi..
tertata rapi dalam tiap kategori suasana.

kumainkan tiap peran dengan baik,
tertawa.. ku tertawa..
menangis.. ku menangis..
terjatuh pun aku terjatuh..

menyela tiap sudut mencari sosok yang mau tak mau kan berperan dalam sanubari akhirnya,
tak jua ku temukan...

tak sadar akan nyata, langkah terhenti, tercium semerbak aroma khasmu..
apakah itu kau, yang sedari dulu berada di sampingku .. ^_^

metha ayu s

langkah terbaik


Ada sejuta sinyal yang bisa kau harapkan untuk melanjutkan materi senyum yang padat pada sistem kredit semester yang tak kan berakhir,
Menelurkan variasi rasa yang menggurui hakikat telepati, 
Ketidak tahuan yang menyanyikan hari yang gentayangan, penasaran..
Tak bisa dihitung dengan matematis, usaha ekonomis, jadi yang paling manis, klimis dan eksis. 
Rumput mendesis.

Kapan lagi kan kau sudahi rajutan tali menali yang ujungnya tak kau jangkau, 
Tak memintamu untuk menjangkau, jangan paksa dirimu untuk memintanya yang mau tak mau,
Kapan lagi kau kan memulai langkah terbaik yang belum tapi bisa kau coba, 
Dengan doa yang baru, bukan lagi doa untuk memintanya tinggal disisimu.


-resolusi-

Tak lagi ku hitung dan mencoret hitunganku,
semua kertas berubah menjadi karbon dan menjiplak hal lama.
aku juga bukan yang terinovatif menggebrak kebisuan yang normatif.
Dan teramat sulitku temukan selat-selat terhimpit yang akhirnya rumit.

Bukan pula untuk ku jadikan formulisasi dengan formalin agar lebih abadi.
aku hanya sudah kusam untuk mencoret.
aku hanya pergi ke barisan pesisir, lalu mulai menapaki cerita dari coretan-coretanku, di abad lalu.

dia atau dia (jodohku)

Walaupun aku sudah jauh-jauh hari menempamu,
tapi aku tak dapat garansi untuk membawamu benar-benar pulang bersamaku.

aku tetap saja selalu terbuai pada alunan vibrasi pita suaramu yang slalu jadi yang paling merdu.

aku masih saja mencoret-coret awan dengan angin yang kukibaskan dari ujung telunjukku, yang kadang juga mengukir rasi bintang di langit hitam sesuka hatiku.

dirimu masih disitu, duduk tersenyum mempermainkan sebuah boneka yang mirip denganku. atau mungkin, kau hanya menatapnya, lalu mengenalnya tanpa tahu liku yang tak kita tahu hitungannya.
sampai aku sadar dengan rasaku bahwa itu benar-benar aku.

aku yang akhirnya sibuk mengukir inisialmu.
menggelitik waktu dalam irisan keingintahuanku tentang dia yang ditetapkan untukku.
tentang pilihanku  dan piliha-Nya dengan persetujuanku dan izin-Nya.

Apakah kamu memang benar dia?
Aku tak diberi garansi, jadi aku belum berani membawamu pulang..


-jangan ragu lagi-

Mengertikah kau,
mengapa aku mencintaimu?

karena jika kau tidak persis seperti apa adanya engkau
saat ini, setelah melalui segala sesuatu yang telah
kau lalui, aku tidak akan persis seperti apa adanya aku
saati ini. Dan tidak ada kata - kata yang bisa
mengungkapkan betapa lebih besarnya aku karenamu
adalah kau seperti adanya saat ini.

Oh buatlah aku bergembira
Jangan ragu lagi
^_^

--sandiwara--

Tertawa di saat hati meringis,
Tegar walau hati tertatih,
Terselip simpul berjuta sikap,
Tak pernah letih dan tak pernah letih.. Sungguh..

Terdiam namun menjerit,
Ku berteriak dalam hati,
Bak raja hutan mengaum dengan lantang,
Wahai dunia betapa licik dirimu..

Inilah aku, yang bersandiwara di pelupuk matanya
Akankah ini berakhir, akankah semua baik – baik saja
Jika ku hentikan sandiwara ini
Adakah yang menjaminnya..

Kemudian aku bertanya lagi, adakah yang menjaminnya..?
Dibatas senja kuberdiri
Dan kini semua belum usai..

up